Nikmati Kekhasan Wisata Anggaran Pulau Tidung

Pulau Tidung, satu diantara umumnya pulau di Kepulauan Seribu mempunyai daya tarik tertentu buat pencinta wisata bahari. Pulau Tidung terbagi dalam dua pulau, Pulau Tidung Kecil serta Pulau Tidung Besar.Penghuni Pulau Tidung pertama-tama ada di Pulau Tidung Kecil, tetapi sesudah menambahnya masyarakat beberapa geser ke Pulau Tidung Besar. Pulau Tidung Kecil serta Pulau Tidung Besar dikaitkan oleh jembatan merah bernama Jembatan Cinta.Warga Pulau tidung cukup unik beberapa penduduknya lakukan mobilitas dengan memakai sepeda. Bahkan juga di Pulau Tidung ada parkir spesial buat pengendara sepeda.Tidak hanya sepeda, warga memakai becak jadi alat transportasi. Tidak padatnya kendaraan memiliki bahan bakar bensin, membuat Pulau Tidung mempunyai kualitas udara yang baik.

Bila Anda ingin liburan serta nikmati situasi pantai, pulau Tidung dapat jadi satu diantara pilihan Anda. Cuma perlu satu jam dari Pantai Marina Ancol Jakarta ke arah Pulau Tidung dengan memakai speed boat.Pengelola wisata memberi sarana persewaan sepeda dengan rata-rata haraga Rp 15 ribu sampai Rp 20 ribu /hari. Untuk berkeliling-keliling pulau dengan memakai becak, anda cuma dipakai ongkos Rp 100 ribu.

“Jika ingin keliling-keliling pulau Tidung Rp 100 ribu. Sama saja bule atau orang sini,” kata Benny seseorang pengemudi Bentor di Pulau Tidung, Rabu, 9 Mei 2018.

Untuk home stay, cukup dapat dijangkau yaitu sekitar Rp 300 ribu sampai Rp 600 ribu. Sayangnya untuk ongkos makan di Pulau Tidung masih cukup mahal. Ini sebab bahan suplai bahan makan mentah harus dipasok dari Jakarta. “Jika makan cukup mahal di sini, sebab pasokannya dibawa dari Jakarta gunakan kapal,” kata seseorang pengelola home stay.Sekarang sendiri Pulau Tidung mulai lakukan pergantian untuk menarik jumlahnya pelancong, baik luar negeri atau wisatawan lokal. Banyak hal yang diperbaiki ialah permasalahan pemrosesan sampah plastik. Sekarang, pemrosesan sampah mulai di pusatkan untuk melakukan perbaikan ekosistem yang ada.Bentuk ini kelihatan dari jumlahnya papan himbauan yang tuliskan larangan buang sampah. Tetapi proses pemrosesan sampah ini tidak segampang mengubah telapak tangan, perlu tenaga dan waktu dalam melakukan perbaikan hal itu.

Wisata Pulau Tidung ini banyak di nikmati oleh banyak pelancong lokal saat weekend. Menurut seseorang pengelola penginapan, pada saat hari libur lonjakan pelancong sampai 70 %. “Tingkat tempat tinggal home stay di pulau tidung, untuk week end seputar 70% serta untuk week day 10 %,” katanya.Walau dalam tempo dekat Pemerintah merencanakan datangkan investor untuk mengurus Pulau tidung jadi tempat wisata, Abdul Rahman meyakini jika itu tidak mengganggu mata penelusuran pribumi yang mengurus home stay.

“Bila ada investor yang ingin masuk ke pulau seribu sebailnya ditempatkan ke pulau wisata. Ini tidak mengganggu home stay di pulau pemukiman, sebab pangsa pasarnya berlainan,” katanya.

Palau seribu terbagi dalam 110 pulau. 11 pulau pemukiman, 45 pulau utk resort/wisata, 4 pulau heritage serta 1 pulau untuk base camp pengeboran minyak, pulau zone pokok TNL Kepulauan Seribu serta pulau dengan lokasi hijau.Dari 45 pulau wisata, pernah terjaga 10 resort, tetapi yang saat ini masih berjalan cuma 5 resort saja. Mulai tahun 2010 beberapa pengembang pribumi meningkatkan pulau pemukiman (pulau tidung, pulau pramuka, keinginan, pari, kelapa, untung jawa, yang sekarang banyak didatangi wisatawan lokal.

Cerita Pulau Tidung serta Kearifan Sang Raja

Pulau Tidung punyai banyak narasi. Tujuan wisata yang terdapat di Kepulauan Seribu ini awalannya cuma pulau biasa tanpa ada nama. Sampai pada tahun 1894, riwayat dari pulau ini juga diawali. Satu hari pulau ini kehadiran satu kapal pemerintah Hindia-Belanda dengan tawanannya.

Dari atas kapal seseorang lelaki tua serta dua anak muda turun dibawah todongan senjata pengawal. Seperti kutipan di film, ketiganya diminta naik ke sekoci serta dikawal oleh dua orang serdadu yang sekaligus juga mendayungnya mengarah bibir pantai lalu turunkan ke-3 orang tawanannya.

Tawanan yang terbuang itu yakni Aji Muhammad Sapu, alias Kaca, dikukuhkan jadi Raja Tanah Tidung tahun 1853 dengan gelar Panembahan Raja Pandita. Sedang dua orang yang lain ialah beberapa cucunya yakni Sayid Abdurrachman serta Sayid Abubakar.

Saat itu, Belanda memaksakan Raja Pandita melepas kekuasaannya, menyerahkan Tanah Tidung ke Kesultanan Bulungan, serta mengaku Hindia-Belanda jadi yang dipertuan. Raja Pandita menampik. Rakyat Tidung siap-siap lakukan perlawanan, tetapi Raja Pandita menahan sebab tidak mau jatuh korban.

Selanjutnya Belanda tangkap Raja Pandita dan dua cucunya serta membawanya ke Batavia. Sesudah dua tahun di ibu kota Hindia-Belanda, pemerintah kolonial buang ketiganya ke pulau tidak diketahui di Kepulauan Seribu. Jadi lambang perlawanan paling akhir, Raja Pandita memberikan nama tempat pembuangannya jadi Pulau Tidung.

Raja Pandita selanjutnya mempopulerkan Pulau Tidung dari mulut ke mulut pada tiap nelayan yang berkunjung atau pendatang baru, hingga kemudian masyarakat di Kepulauan Seribu akrab dengan nama Pulau Tidung.

Raja Pandita juga wafat tahun 1894 pada umur 81 tahun. Sedang dua orang cucunya terus tinggal di pulau itu sekalian menjaga makam sang raja. Selanjutnya ke-2 cucunya menikah dengan wanita dari pulau lain serta beranak-pinak.

Sesudah kepergian sang raja, keberadaannya di pengasingan nyatanya dicari-cari oleh rakyatnya. Sesudah sekian tahun berlalu, persisnya pada Juni 2011, satu team dari Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur, datang di Pulau Tidung untuk cari makam seseorang raja.

Mereka mempelajari semua kuburan terlantar di Pulau Tidung, ambil sampel DNA, serta mengetesnya. Sesudah lakukan penelusuran ke semua pelosok Indonesia, Instansi Tradisi Besar Tidung Kalimantan Timur menginformasikan jika makam Raja Pandita sudah diketemukan di Pulau Tidung.